Generasi Z https://dalmadicenter.com/pentingnya-mental-health-di-lingkungan-kerja-pada-kaum-gen-z/ kini mulai mendominasi dunia kerja. Mereka datang dengan energi baru, kreativitas tinggi, serta kemampuan adaptasi teknologi yang mumpuni. Namun di balik citra tersebut, tersimpan realitas yang tidak selalu terlihat: tekanan mental yang cukup berat. Deadline yang menumpuk, kebiasaan overthinking, hingga kelelahan akibat rapat daring atau Zoom fatigue menjadi bagian dari keseharian Gen Z di tempat kerja. Fenomena ini bukan sekadar keluhan sesaat, melainkan potret nyata kondisi kesehatan mental generasi muda profesional saat ini.
Salah satu sumber tekanan terbesar adalah deadline. Di era serba cepat, tuntutan untuk bekerja efisien dan hasil maksimal sering kali datang bersamaan. Banyak Gen Z bekerja di lingkungan yang menghargai kecepatan, multitasking, dan respons instan. Pesan kerja bisa datang kapan saja, bahkan di luar jam kerja. Akibatnya, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi kabur. Deadline tidak lagi terasa sebagai target yang memotivasi, tetapi berubah menjadi beban mental yang terus menghantui. Perasaan dikejar waktu ini dapat memicu stres berkepanjangan, gangguan tidur, hingga menurunnya produktivitas.
Tekanan tersebut sering kali diperparah oleh overthinking. Gen Z dikenal sebagai generasi yang reflektif dan sadar diri, namun sisi ini juga bisa menjadi pedang bermata dua. Di tempat kerja, overthinking muncul dalam berbagai bentuk: takut membuat kesalahan, khawatir dinilai tidak kompeten, atau terus memikirkan komentar atasan dan rekan kerja. Budaya kerja yang kompetitif dan paparan media sosial yang menampilkan kesuksesan orang lain turut memperkuat rasa tidak aman. Akibatnya, banyak Gen Z yang terjebak dalam siklus berpikir berlebihan, sulit mengambil keputusan, dan merasa cemas meskipun performa mereka sebenarnya baik-baik saja.
Selain itu, perubahan sistem kerja ke arah digital membawa tantangan baru berupa Zoom fatigue. Rapat daring memang memudahkan koordinasi, tetapi jika dilakukan secara berlebihan, dampaknya bisa melelahkan secara mental. Menatap layar berjam-jam, berusaha fokus pada banyak wajah sekaligus, serta tuntutan untuk selalu terlihat “hadir” dan responsif dapat menguras energi. Bagi Gen Z yang sebagian besar memulai karier di masa kerja hybrid atau remote, Zoom fatigue menjadi pengalaman yang sangat umum. Kelelahan ini sering tidak disadari, namun efeknya nyata: sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan menurunnya motivasi kerja.
Ketiga faktor tersebut—deadline, overthinking, dan Zoom fatigue—saling berkaitan dan membentuk tekanan mental yang kompleks. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berdampak jangka panjang, seperti burnout, depresi, hingga keinginan untuk resign meski karier baru saja dimulai. Sayangnya, masih ada stigma bahwa membicarakan kesehatan mental di tempat kerja adalah tanda kelemahan. Padahal, justru keterbukaan menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
Di sisi lain, Gen Z sebenarnya lebih berani menyuarakan isu kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Mereka cenderung mencari makna dalam pekerjaan, menghargai keseimbangan hidup, dan menginginkan lingkungan kerja yang suportif. Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk berbenah. Fleksibilitas jam kerja, manajemen beban kerja yang realistis, jeda dari rapat daring, serta akses ke dukungan kesehatan mental adalah langkah-langkah yang dapat membantu.
Pada akhirnya, potret kesehatan mental Gen Z di tempat kerja adalah cerminan dari sistem kerja modern itu sendiri. Bukan hanya individu yang perlu beradaptasi, tetapi juga organisasi dan budaya kerja secara keseluruhan. Dengan memahami tantangan yang dihadapi Gen Z, kita dapat menciptakan dunia kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga manusiawi. Kesehatan mental bukanlah penghambat kesuksesan, melainkan fondasi penting untuk pertumbuhan jangka panjang, baik bagi karyawan maupun perusahaan.